Buku ini adalah kumpulan puisi. Nikmatilah fragmen-fragmen liris, refleksi rindu, serta perjalanan kesedihan yang terangkum dalam sehimpun puisi ini. Karya-karya di dalamnya lahir sepanjang tahun 2022 hingga 2025—sebuah masa di mana larik-larik puisi muncul dari titik nadir; buah dari ujian, kehilangan, getir, serta pelik rindu akan peluk orang terkasih.
Beberapa puisi di sini pernah memenangkan ruang dalam kompetisi, sementara yang lain sempat singgah di berbagai media—baik yang masih tegak berdiri maupun yang kini telah ‘rungkat’. Memungut dan menjahitnya kembali satu per satu agar tidak hanyut ditelan masa, sebab sebagian besar nyaris tenggelam dalam tumpukan berkas yang tak menentu nasibnya.
Gaya bahasa yang dipergunakan sengaja dibiarkan bercampur; terkadang metafora, ironi, liris, hingga sesekali sarkas. Semuanya bergantung pada suasana jiwa dan pengaruh lingkungan saat setiap bait ditata.
Penulis menyadari karya ini masih jauh dari kata sempurna. Sebab jika kesempurnaan telah tercapai, mungkin ia pun akan purna. Lelaki bugis yang terkadang melukis, terkadang di panggung berteater, terkadang menjadi silent rider di beberapa grup WhatsApp komunitas yang memasukkannya, ia hanyalah seorang pembelajar yang haus ilmu; pribadi yang kadang romantis, terkadang melankolis, namun lebih banyak menangis saat berbenturan dengan realistis.
