Penulis: Chris Triwarseno 

Kata Pengantar : Dedy Try Riyadi

Kata Penutup: Irzi

Penerbit: Pagan Press (Anggota IKAPI No. 329/JTI/2022)

Cetakan pertama, Agustus 2026

Tebal: x + 120 hlm

Ukuran: 14.8 x 21 cm

ISBN:  

HARGA:

Chris  Triwarseno  memang  tidak  datang  dari  tradisi akademik sastra. Ia adalah alumnus Teknik Geodesi Universitas Gadjah Mada, bekerja sebagai karyawan swasta, dan tinggal di Ungaran. Chris juga menulis dari luar institusi sastra formal. Ia tumbuh dari praktik membaca dan menulis yang dijalani secara konsisten di sela kehidupan sehari-hari. Ia menulis puisi, cerpen, resensi,  dan  esai,  bukan  sebagai  profesi  utama,  melainkan sebagai  bentuk  keterlibatan  kultural  yang  dijalani  dengan kesungguhan.

Posisi tersebut menjadi titik berangkat yang menentukan watak  esai-esainya.  Chris  tidak  menulis  untuk  membangun sistem teori atau metodologi tertentu. Ia membaca dan menulis sebagai  pembaca  yang  terlibat,  dengan  membawa  pengalaman hidup,  kegelisahan  batin,  serta  kesadaran  akan  konteks  sosial dan kultural yang melingkupi teks.

Pada  bagian  awal  buku,  puisi  memang  menjadi  salah satu  medan  pembacaan  yang  cukup  menonjol.  Puisi  dibaca bukan  semata-mata  sebagai  objek  estetika,  melainkan  sebagai ruang  perenungan,  kesaksian  sosial,  dan  penanda  kegelisahan zaman. Puisi menjadi pintu masuk untuk membaca pengalaman manusia,  baik  yang  bersifat  personal  maupun  kolektif.  Namun buku  ini  tidak  berhenti  pada  puisi.  Seiring  halaman  bergerak, medan  pembacaan  Chris  meluas  ke  berbagai  bentuk  teks  dan fenomena lain.

Esai-esai  dalam  buku  ini  berbicara  tentang  kota  dan pengalaman hidup di dalamnya, tentang teknologi dan algoritma yang memengaruhi cara manusia berkomunikasi, tentang media sosial  dan  kebisingan  wacana,  tentang  spiritualitas  dan pencarian makna, tentang ingatan personal, serta tentang situasi sosial dan politik yang kerap hadir sebagai latar, tetapi memiliki dampak nyata terhadap  kehidupan sehari-hari. Ragam bahasan ini menunjukkan bahwa esai-esai Chris tidak dibatasi oleh satu objek tunggal, melainkan oleh satu cara pandang.

Buku  ini  juga  mencatat  kegelisahan  terhadap  kondisi membaca  dan  menulis  hari  ini.  Di  tengah  limpahan  informasi, kemudahan publikasi, dan budaya serba cepat, membaca kerap direduksi menjadi konsumsi singkat. Teks dibaca untuk segera disikapi, dibagikan, atau dilupakan.

Esai-esai  Chris  bergerak  berlawanan  dengan kecenderungan ini. Ia menegaskan bahwa membaca, baik puisi maupun  teks  lain,  adalah  kerja  batin  yang  menuntut  perhatian dan  tanggung  jawab.  Tanpa  kerja  tersebut,  kata-kata  mudah kehilangan bobotnya, dan wacana berubah menjadi kebisingan yang cepat berlalu.

Judul Buku: Yang Sepintas-Lalu dan Yang Diperjuangkan, Kumpulan Esai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *