Penulis : Dr. Abimardha Kurniawan, S.Hum., M.A., Anisa Febi Ananda, Annisa Kusuma Rahmawati, Aulia Nur Aini, Bramantio, S.S., M.Hum., Clarinta Nasy’wa Auryn Afandy, Damai Indana, Dwiki Achmad Thoriq, Fadhilatun Nisa’ Adiilatun, Dr. Ida Nurul Chasanah, S.S., M.Hum., Jennisa Eklesia, Jesika Putri, Margareza Dwi Wahyuni, Marseline Stephanie Julia, Moch. Ricky Adrian Firmansyah, Muhamad Bima Fadholallah, Nadia Yasmin Dini, Nanda Alifya Rahmah, S.Hum., Nazswa Isabella Arizona, Novia Antika, Reisha Masayu Cahyani, Shirly Shofiya Kamila Rosyda Kusumawardhani, Varayssha Zakiy Xatriapradnya
Kurator : Ida Nurul Chasanah dan Nanda Alifya Rahmah Sampul : Bima Still The One Tata Letak : Dwiki Achmad Thoriq
Diterbitkan oleh PAGAN PRESS (Anggota IKAPI No. 329/JTI/2022)
Cetakan pertama, September 2026
Tebal: xii + 202 hlm
Ukuran: 14.8 cm x 21 cm
ISBN:
HARGA
Puisi, dan sastra pada umumnya, senantiasa menuntut keterlibatan, menuntut kita untuk menjalin hubungan dengan sesuatu yang seringkali lebih besar dari diri kita sendiri. Dalam keterlibatan itulah puisi bukan sekadar karya tulis yang tercipta, melainkan juga serangkaian proses yang menyertainya. Menulis puisi, bersastra, adalah berproses— semangat yang diidamkan sebagai warisan jangka panjang bagi setiap benih muda yang baru memulai langkah-langkah awalnya untuk tumbuh.
Dalam proses itu, tentu kita akan menemui kesedihan, kemalasan, keengganan, kerentanan, keasingan, yang mendadak menagih banyak pertaruhan. Apakah kita akan mengambil keputusan untuk menghadapinya? Menaklukkannya? Atau menunda dan kembali suatu hari nanti dengan bekal yang lebih siap? Proses menulis bisa jadi menyuguhkan hal-hal kurang enak yang senantiasa mengekor di belakang bayang-bayang kita. Bisa jadi, diri kita hari ini belum sepenuhnya siap. Namun, kesadaran-kesadaran baru yang menghampiri selama berproses itu adalah oleh-oleh berharga yang memperkaya jiwa kita di kemudian hari.
Antologi Ruang Kaca karya para penyair Selasar Lazuardi ini dapat dibaca sebagai ruang di mana beragam proses itu dapat kita intip dengan sebenarnya, di balik sebuah dinding kaca yang transparan. Ada kalanya kita melihat kesedihan, kemalasan, keengganan, yang sesekali hadir dalam wujud yang belum matang sempurna. Di sana kita melihat rekaman proses para penyair dalam serangkaian “rekreasi” ke ruang-ruang romantisme, ruang-ruang kota, hingga ruang-ruang mitos. Rekaman yang tentunya berguna untuk disimak (ulang) bagi para penyairnya maupun pembaca umum, untuk melihat bagaimana menulis puisi menjelma proses yang bergulir sebagai rute yang selalu unik, selalu berbeda di tiap diri.
