Buku ini disusun dengan disertai transkripsi fonetis. Hal tersebut bertujuan agar leksikon bahasa Madura Pandalungan ini memiliki representasi pelafalan dalam tuturan aslinya dengan menggunakan simbol IP.
Selain itu, glosarium ini juga disusun dengan kesadaran bahwa praktik pertanian Bawang Merah di Probolinggo bukan semata aktivitas ekonomi, melainkan juga ruang produksi pengetahuan lokal yang diwariskan secara turun-temurun.
Di dalam praktik tersebut hidup berbagai istilah, ungkapan, dan penamaan yang merefleksikan pengalaman agraris, relasi manusia dengan alam, serta pertemuan budaya Jawa dan Madura yang membentuk identitas Pandalungan. Oleh karena itu, glosarium ini tidak disusun berdasarkan urutan abjad sebagaimana glosarium pada umumnya, melainkan berdasarkan tahapan dan proses dalam pertanian Bawang Merah, mulai dari persiapan lahan, pembibitan, penanaman, perawatan, hingga panen dan pascapanen.
Penyusunan berbasis proses ini dimaksudkan agar pembaca dapat memahami leksikon tidak sebagai daftar istilah yang terlepas dari konteks, melainkan sebagai bagian dari alur kerja agraris yang hidup dan bermakna.
