JALAN KOPI

Cerpen S. Jai

 

 

KANTUNG celanaku tak pernah kosong dari kopi; sebentuk biji yang membuatku bergairah. Aku sungguh terangsang, semenjak Rena mensyaratkan padaku bila aku serius ingin hidup bersamanya, dan berbahagia, maka jadilah aku ahli kopi.

Aku tak mengerti kenapa Rena sungguh terobsesi pada kopi. Aku juga tak tahu mengapa geloranya justru dilemparkannya padaku. Aku bukan satu-satunya lelaki  yang mengagumi kecantikannya, ingin menikahinya, melahirkan anak-anak dari rahimnya dan bahagia hidup bersamanya.

Aku lelaki pasaran, yang tak memiliki keistimewaan dalam hal perempuan. Ada berjuta pria yang demikian.

Aku berpikir Rena tak cuma menantangku, tepatnya, menyeretku untuk mengikuti obsesinya pada kopi. Memang, Rena mengakui ada sejumlah lelaki yang kepada mereka disuguhi; bila serius perhatian pada kopi siapa pun dia tak berpikir pelik untuk menjadi kekasihnya, suaminya dan ayah dari anak-anaknya.

Sialnya, aku bukan ahli kopi. Sementara 999 dari 1.000 lelaki adalah pecandu kopi.

“Kau jangan berpikir aku main-main dengan lelaki sebanyak itu untuk jatuh cinta pada kopi. Jangan kau kira aku mengancammu.”

“Kau juga tak perlu ragu akan ketulusan cintaku, Rena.”

“Silakan merayu. Hanya kopi yang menggetarkan hatiku.”

Entah, aku tak tahu mengapa aku jatuh cinta pada Rena. Latar belakangnya, ceritanya, aku nggak mengerti. Teman juga tidak. Kapan kali pertama jumpa, aku juga lupa. Anehnya, setelah terbetik pikiran tentang kopi, aku mengingatnya. Suatu kali aku  diajak sejumlah teman LSM ke sebuah kedai kopi kecil. Tempatnya di bawah pohon trembesi yang meski berhias bunga lily, kumis kucing dan melati, daun-daun kering berserakan. Halamannya kendati berpaving namun kurang sedap dipandang. Bangunannya di dominasi seng galvalum dan rangka besi. Dengan sejumlah meja kursi dari kayu yang sederhana, kedai itu ternyata hanya menyediakan seduhan kopi.

Satu-satunya yang enak dipandang hanyalah Rena, perempuan itu. Kelak, kecantikannya membuatku tak meniliknya sebagai perempuan, melainkan sebiji kopi.

Dan aku heran, inilah yang merepotkan Rena sebagai pelayannya; pada saat yang lainnya memesan kopi, Rena mengaku repot karena aku. Kelak, berujung dendamnya padaku dengan giliran merepotkan aku. Itulah kali pertama aku jatuh cinta pada Rena, sebagaimana sebagian besar pria yang datang di kedai itu jatuh cinta padanya.  Jelas, sebagian besar mereka jatuh cinta oleh alasan kopi, sementara aku tak berhujah apapun kecuali lantaran saling merepotkan—satusatunya alasanku jatuh cinta hanyalah perihal gadis itu sendiri, Rena.

Sekalipun aku datang untuk kali pertamanya, Rena lebih mudah mengenaliku.  Begitu juga, aku tak pernah ingat alasan lain setiap bertandang, baik bersama sejumlah kawan maupun sendirian. Yang kuingat justru cerita dalam cerpen Umar Kayam, Secangkir Kopi dan Sepotong Donat—kisah cinta seorang pelayan kedai kopi, yang ternyata korban KDRT bahtera rumah tangga ibunya, dengan seorang pemuda pekerja kantor langganannya. Nikmatku yang bukan ahli kopi saat di kedai kopi senikmat kenangan membaca cerpen itu. Mungkin inilah alasan yang lain selain soal Rena dan kecantikannya.

Mula-mula, kukira Rena adalah pelayan di kedai itu. Ternyata aku keliru. Dialah pelayan, kerani dan pemilik sejatinya. Artinya, tak ada pemilik lain yang berkongsi dengannya, atau yang menjadi pemodalnya. Dengan begitu, Rena bukan perempuan sembarangan. Dengan demikian, bukan mustahil inilah yang menciutkan nyali sebagian lelaki untuk mendekatinya—setidaknya, hanya lelaki yang juga tak sembarangan sanggup merawat keberanian untuk mendekatinya.

Sialnya, aku lelaki sembarangan. Akulah yang berharap pada keanehan-keanehan yang, sudah kuceritakan dan telah lebih dulu kukantongi. Harapanku pada keanehan berikutnya kutambah dengan setiap ada kesempatan dimanapun, juga saat mendatangi kedai Rena, aku tak meminta apapun, selain sebiji kopi untuk kukantongi.

“Sekadar penghalau nasib sial,” kataku sekenanya.

“Aku serius. Aku sudah bosan di kedai ini. Aku hanya sudi pada lelaki yang jatuh cinta pada kopi dan yang sanggup mengusir kebosananku,” sergah Rena.

“Bagaimana aku bisa menyakinkanmu, kecuali dengan kantongku yang tak pernah sepi dari biji kopi?”

Saat kutembakkan kata demikian, rasanya pagi itu sunyi sekali, seperti gambar film yang dibisukan, meski sesungguhnya Rena tungkus lumus melayani pembeli yang cablak, manja, bertingkah dan umuk melempar rayuan.

Rena menahan sesuatu. Barangkali gelegak tawanya.

Perlahan aku mengenalinya sebagai mahasiswa filsafat, yang melarikan diri dari kedua orangtuanya—ibunya seorang dokter kenamaan dan ayahnya komisaris sebuah perusahaan besar. Sekali lagi dan sekali lagi aku lupa, bagaimana aku mendapati keterangan yang demikian. Mungkin saja aku sekadar mengarang.

“Lalu maksudmu, kau mau aku menggantikanmu, begitu?”

“Bukan. Aku mau lebih profesional. Aku mau bersama lelaki yang dalam dirinya mau bertarung cintanya buatku, atau buat kenikmatan secangkir kopi.”

“Ah, aku nggak ngerti. Itu omongan mahasiswa filsafat.”

Lagi-lagi suatu keanehan. Tantangan Rena agar aku menjadi ahli kopi, tak kumulai dengan meminum seduhan dari biji kopi, melainkan kuawali dengan membaca buku-buku ikhwal riwayat kopi.

Suatu misal, aku membaca Max Havelaar, kisah tentang perjalanan Droogstoppel, seorang makelar kopi, pebisnis yang rakus menghisap darah petani, juga cerita perjalanan Max Havelaar, seorang asisten residen di Hindia Belanda yang berusaha membela keadilan namun akhirnya kalah dan hidup melarat, serta tak terkecuali drama pilu Saijah dan Adinda, lukisan masa kelam rakyat Indonesia sebagai apa yang disebut pribumi. 

Pun, aku membaca  The Various Flavours Of Coffee novel Anthony Capella. Kisah penyair amatir yang menganggur lalu mendapati pekerjaan di kedai kopi sebagai pengampu kata-kata cita rasa kopi di situ yang lantas jatuh cinta pada putri pemilik kedai. Takdir penyair berakhir dalam petulangannya di Afrika, menambatkan hasratnya pada seorang perempuan—yang menyelipkan sebiji kopi ke tangannya dan bergelut serta bergulat dengan cinta terlarang.

Tak seberapa lama, tiba-tiba aku marasa sebagai warga dunia, yang tak asing dari fakta kopi sepanjang abad di masa silam. Menyebut beberapa saja; petisi dan kontra “petisi wanita” vs pamflet ‘The Maiden’s Complaint Against Coffee‘ di abad 17 karena disebut-sebut penyumbang disfungsi ereksi; juga pelarangan di Swedia di abad 18 untuk semua jenis kopi bahkan juga peralatan membuat kopi dan termasuk cangkir dan tatakan, serta teko/server kopinya. Konon, sempat pula disebut-sebut kopi adalah pemicu radikalisme. Di Turki dan Italia pernah pula diklaim minuman menyesatkan.

Aku kian heran, mengapa sudi bersusah-susah menggeledah tumpukan buku, memesannya dari toko online, atau ramban dari sejumlah website. Padahal Rena hanya—untuk  sementara—memintaku menyeruput secangkir kopi, setidaknya di hadapannya, lalu berjanji mencintai dirinya sebagaimana dirinya mencintai kopi.

 “Kau harus tahu, meracik kopi buatku adalah menyeduh kenangan dan sejarah. Ada yang pahit, ada yang manis, ada yang bukan keduanya. Ada yang di masa lalu, ada yang masa depan, ada yang bukan kedua-duanya. Yang jelas apapun, itulah keindahan-kenangan,” ungkapnya yang kumaklumi kata-katanya sebagai mahasiswa filsafat.  

“Maka buat saya kopi ini terlalu mahal untuk sekadar diperjualbelikan, sekadar diperbincangkan apalagi sekadar dikabarkan,” imbuh Rena.

Rena juga menerangkan, sementara ini satu-satunya yang menghadang kebosanannya, dalam banyak hal, termasuk kecintaannya pada kopi adalah filsafat. Lalu Rena memintaku mencermati pemandangan kedainya yang sumpek, sesak, monoton, dan tentu saja menjemukan.

“Di dalam nadi dan arus darahku, tak sekadar ada kopi, tetapi juga ingatan akan kenangan, bahkan peradaban. Sebagian orang barangkali mendengar kopi, adalah dusta, yang kedengarannya hanya unik bagi penggemar Arabica dan Robusta itu. Bagiku, jika pun itu benar, seperti sebagian yang lain aku percaya apa kata, Charles Dickens, dialah dusta yang menyingkap kebenaran.”

“Wow..kau pembaca sastra pula?”

“Ya, tentu saja. Karena pertanyaan-pertanyaan sastra itu sama persis dengan pertanyaan filsafat. Hanya jawabannya yang berbeda.”

Mendadak Rena menghentikan aktivitasnya merapikan alat-alatnya, menghapus keringat atau serbuk di tangan pada celemeknya, lantas mendekatkan wajahnya padaku; “Tapi sampai kapan aku bisa bertahan dalam kejemuan seperti ini? Apa kau mengira aku tak butuh pelukan laki-laki? Seorang pria yang menjadi barista istimewa khusus buatku?”

Terus terang ini pertanyaan terpenting Rena buatku, di sebalik kekacauan, keruwetan dan kebingunganku sebagai lelaki yang mengagumi kecantikannya. Sebuah pertanyaan yang bagiku melipatgandakan pandanganku ikhwal kecantikan padanya.

***

Aku masih berjibaku dengan buku ketika seorang lelaki mengajakku berdiskusi pasal kopi—maksudku perihal Rena. Barangkali ia, berhadapan dengan Rena dan bernasib sepertiku, meski sesama pria akulah seburuk-buruk nasib lelaki.

Aku bersepakat padanya. Sebongkah kecil patahan-patahan sejarah, setuju atau tak setuju, yang melestarikan atau melenyapkan, terang adalah gerak peradaban jaring perdagangan kopi—yang terbesar setelah minyak, semenjak ditemukan di bumi asing orang Afrika yang muasalnya menumbuk ceri kopi untuk camilan, sebelum di kemudian hari dimanfaatkan kafeinanya demi perusahaan farmasi.

Beruntung negeri kita yang tropis satu garis dengan Afrika sebagai semacam surga tanaman kopi, meski soal surga atau neraka, bagi kopi atau buat penduduknya eksekusinya kembali kepada diri kita sendiri.

Beruntung aku membacanya dari banyak fakta.

Setelah terjadi semacam kesepakatan itu, mulanya, pria itu menceritakan dirinya. Kupikir ceritanya tak lain adalah sebentuk perang urat saraf, memperlihatkan bahwa dirinya lebih baik daripada aku dalam urusan kopi dan Rena. Atau setidaknya aku menganggapnya pengakuan-pengakuannya tak lain sekadar latihan berbicara pada Rena.

“Saya tak tahu persis apa hubungan antara nasib, kenangan, dan masa depan,” katanya yang tak kumengerti. 

“Jikalaupun itu berhubungan, aku ingin memutuskannya. Apabila itu tak berkaitan, mungkin aku hendak menautkannya,” lanjutnya.

Aku terdiam. Sasmita tak paham.

“Ah sudahlah…”

Pendeknya, ia lantas berkisah. Tentu saja menegaskan perihal nasib, kenangan, dan masa depan yang terpaut erat dengan kopi.

Dia mengaku tak bisa meminggirkan dari masa kecilnya, sebuah kenangan. Kenangan seperti awan putih yang beriringan memayungi kesehariannya, pada suatu waktu, hari ini dan entah sampai kapan masa berikutnya.

Sebagian besar masa kanak-kanaknya di masa lalu, hidup di sebuah kampung. Baginya, sebagian besar hari pengalaman bermain adalah mahkota masa kanak. Bersepeda, bermain gambar, kelereng,  knikker[1], dari sudut kampung satu ke sudut kampung lainnya, dari gang ke gang. Nyaris tak kenal waktu, dan waktu adalah bermain. Pagi, siang hingga menjelang petang, bahkan malam.

Tapi tak banyak kebiasaan anak-anak, dan barangkali hanya sejumput pengalaman mereka di seantero anak zaman di jagad ini: “Saya selalu diam-diam merenggut beberapa jimpit bubuk kopi dari toples ibu saya, menaruhnya di kertas kecil, memcampurnya dengan gula lalu melipatnya dan memasukkannya di kantong baju saya. Begitu mendapatkan jimpitan ini, secepat kereta buatan Jepang lantas saya loncat pergi ke sarang kawan,” tuturnya.

Begitulah, waktu adalah bermain baginya. Sesering mungkin, beberapa jimpit bubuk kopi adalah teman bermain. Tak jarang di sela waktu bermain, dia menyelinap lagi, balik lagi dengan isi kantong yang sama sekiranya cukup untuk menjaga kenikmatan hingga menjelang petang atau malam. Berbaju dengan kantong hand up bagian depan, nggak berlengan, berkancing di bawah. “Saya memilih pakaian yang nyaman untuk aksi heroik saya memanjakan rasa dan aroma antara bibir, lidah, langit-langit, nganga lubang hidung, yang dalam bahasa Jawa cara indah menikmati bubuk kopi bercampur gula ini dengan istilah diuntut—kosa kata yang tak ada padanannya dalam bahasa Indonesia kita,” terangnya.

“Dan, amboi. Jika ada kerinduan oleh karena berjarak ruang dan waktunya pada saat itu dan masa-masa yang mendatang, tak lain adalah: kepergok ibu saya. Kasih sayang, nasihat, hentakan suara-suara itu, peristiwa itu, demikian menjelma rindu, berbuah kenangan. Akan tetapi terhadap sejumput bubuk kopi, akankah ini cukup patut saya sebut suatu kerinduan?”

Pria itu seperti mencoba menekuri diri dengan diam sejenak. Lalu berkata terbata-bata, seperti memandang ke kejauhan. Entah sesungguhnya, entah dibuat-buat.

“Rasanya tak cukup sekadar sebagai rindu, tersebab saya tak pernah betul-betul berjarak dengan kopi, baik di masa lalu maupun masa kini, dan yakin di masa-masa mendatang. Kopi telah mendarah daging, mengalir di aorta, menyusup nadi dan jantungku.”

Pria itu namanya Wali. Aku berani memastikan dialah pria ideal pilihan Rena untuk menaklukkan hari-hari dan mengusir kebosanan hidupnya.

Itu pasti. Sementara aku tak cuma terus bergulat dengan kejerian, namun juga tak henti-hentinya bergelut dengan ketakgenahan diri.

Memang tak muskil bagiku untuk terus mengoleksi teror mengenai pribadi Rena dari banyak lelaki; Heri, Abdi, Supri, Buchori, Jenar, Geger, Lukman, dan tentu saja Wali—yang entah mengapa, aku mendapati sejumlah keterangan yang nyaris sama persis dengan Rena.

Pada suatu kesempatan, Wali berujar menyambung pasal ibunya;  “Sebagai suatu rindu, tentu tak bisa kulupakan. Sebagai suatu peristiwa—yang berlanjut terus dengan peristiwa lainnya, tentu sata harus berjalan, mengaliri aorta dan jantung saya.”

Pada kesempatan lainnya, Rena mengatakan; “Kopi adalah jalanku, mengingatkan diriku pada jalan pedang—jalan kebijakan seorang Musashi samurai Jepang. Bagiku jalan kopi adalah jalan kebahagiaan, selain sudah barang tentu jalan kebijakan.”  

Dari sejumlah lelaki yang mengharapkan cinta dari Rena, aku mendapati keterangan lebih komplit. Rena sempat pergi ke Jepang. Bukan untuk memperdalam filsafat, melainkan belajar bagaimana menyaring kopi, dan berbagai jejaring kopi, mengenali mesin-mesin buatan Jepang.[2]

Tak hanya di Jepang, Jalan Kopi Rena mengalir lebih jauh; Eropa, Australia. Rena belajar banyak hal dari yang kecil hingga paling paripurna. Rena bisa belajar membuat Ekspreso di Eropa dengan brewing[3] menggunakan machine espresso dan tentu saja cara manual. Sejumlah teknik penyajian kopi ditelisiknya; Vacuum, French Press, Drip Method, Percolator, Espresso, Turkish Coffe,  Cold Water Method, Neapolitan Flip.[4]

Pada kesempatan lain, Rena menangguk ilmu belajar merancang sebuah coffee shop di Australia. Di sejumlah tempat jejaring pula mengenalkan Rena pada apa yang disebut fair-trade—sebuah konsep kejujuran dari penjual kopi terhadap semua proses perdagangan yang terjadi. Di samping tentu saja, Rena belajar banyak hal dari banyak tempat belajar di tanah air: Jakarta, Gresik, Jogja.

Dengan kata lain, belajar adalah sejarah bagi Rena. Dari mulai sebagai seorang barista yang menyeduh kopi instan, hingga pengetahuan seorang berkelas latte art yang belajar seni kopi yang handal, dan mendalam—dia yang mempercantik penyajian kopi, bagaikan senirupawan yang melukis keindahan wujud kopi, tekniknya tinggi, imajinatif dan fantastis mendasari kenikmatannya yang berlapis dari cangkir yang tak pernah mangkir bagi pelanggan. Rena juga berikhtiar menyeduh dan mencoba semua jenis kopi dari berbagai Nusantara[5], mengejar kekhasan cita rasa, menemukan formula yang pas hasil sebuah eksperimen atas dasar cinta pada jalan kopinya.

***

Meski aku bukan atau belum menjadi ahli kopi, kurasa aku mengalami kemajuan dengan bersepakat pada Rena. Kesepakatan yang kukira melampaui pencapaianku dari sekadar pencapaian puluhan lelaki pelanggan kedai Rena yang telah ahli kopi.

Bahwa aku memahami bagaimana Rena menempuh Jalan Kopi. Bahwa kopi adalah perpustakaan besar. Kopi tak seperti lirik lagu ‘hitam kulitmu, hitam nasibmu, kawan’ itu.

“Bahwa kopi tak selalu hitam, tak pula selalu pahit. Kopi bagaikan biji permata tempat segala peradaban memujanya,” tedas Rena yang lumayan bisa kumengerti.

Sedikit bisa kupahami, seperti sastra, novel-novel, cerita dan puisi yang kubaca, sebagai pustaka besar, kopi menyimpan berjuta miliar makna, tafsir, maksud dan sudah barang tentu fakta kepentingannya, yang justru menempatkan diriku kecil di hadapannya. Bahkan mungkin bukan diriku saja yang merasa kecil, melainkan bagi siapa saja yang menjadi sedikit tahu akan kopi.

Begitulah, banyak hal yang mulai kusepakati dengan Rena. Sejujurnya, Rena pun mulai sering menyimpan tanya akan pustaka besar kopi, pada komunitas, pada negara, tetapi pertanyaan itu seringkali tertimbun kesehariannya berburu pengetahuan ‘biji permata’ itu. Begitu pulalah, aku mulai mengerti dari Rena, bahwa kopi akan terasa semakin segar bila menggunakan biji kopi yang baru selesai digiling; dan kopi sebaiknya diseduh dengan air mendidih 100 derajat celcius yang sebelumnya didiamkan barang 2 hingga 3 menit.

Rena makin sering berbicara padaku, dalam pelbagai kunjunganku ke kedai miliknya. Meski demikian, aku belum memutuskan untuk seujung lidah pun untuk meminum kopi seduhannya. Meski tak perlu kukatakan alasan apa sesungguhnya yang membuatku demikian kukuh menampik minum kopi. Tak berarti aku anti kopi.

Rena tak sekalipun memaksa, atau menawarkan kopi racikannya. Setiap kali jumpa, Rena senantiasa menyeduh untuk dirinya. Kami benar-benar saling tahu sebagaimana dua pesilat tangguh saling bersikukuh. Rena betul-betul menjaga martabat dirinya hanya menjatuhkan hati pada ahli kopi yang darinya sanggup menerbitkan gairah hidup dan cintanya. Sebagaimana aku pun, tak kalah hati-hati, tak harus sembrono begitu saja atas nama cinta dengan takluk pada cita rasa kopi hingga mengaliri seluruh tubuhku pada aorta, darah, jantungku. (Eh, setelah kupikir, diam-diam rupanya aku meminjam kosa-kata Rena sebagai sihir yang merayap dalam diriku. Tapi tak apalah, sihir seorang filosof pada penikmat sastra).

Bila Rena menyimpan sejumlah misteri, boleh dong, aku juga punya misteri. Aku meyakini; tinggallah di hadapannya, aku meminum secangkir kopi, maka Rena terang akan jatuh hati. Tapi hal itu tak segera kulakukan, meski kuyakin Rena telah mulai tumbuh rasa simpatinya padaku. Aku akan menyingkap rahasianya satu persatu terlebih dahulu, sebagaimana dia pelan-pelan menumbuhkan keingintahuannya terhadapku.

“Aku menolak mitos, kopi adalah penghalang tidur-istirahat penikmatnya, setelah mendapati fakta; justru yang sesungguhnya; kopilah penjaga kesegaran dan semangat penikmatnya. Kopilah yang sebenarnya meningkatkan kekuatan dan kesehatan otak kita. Kafein terbukti pendongkrak kerja otot, pemacu pembakaran lemak dan kelancaran pembuluh darah,” tedasnya.

 Sebaliknya, Rena mengaku membangun mitos untuk dirinya sendiri sebagai suatu pribadi yang tegak dari kenangan, juga sejarah. Bahwa  meracik kopi yang baik, bukan sekadar kopi dengan kopi yang baik. A better coffee, not a bitter—kopi yang baik bukanlah kopi yang pahit, meski tak berarti kopi yang baik musti manis karena tambahan gula. Kopi yang baik adalah kopi yang diminum tanpa gula pun luar biasa. Katanya, kopi yang baik hanyalah kopi yang dipilih secara baik, diproses secara baik dari hasil bumi kita dengan hara tanah yang baik; natural, dipetik ketika masih di pohon.

“Ah, kedengarannya kau seperti juru bicara Disperindag saja,” celetukku.

“Tidak. Bukan. Tak ada dinas manapun sebaik aku. Lebih tepatnya suaraku seperti juru bicara mafia kopi tingkat tinggi.”

Lantas kami pun tertawa. Ah, gingsul gigi itu. Ceruk lesung pipit itu. Nyala mata yang berbinar itu. Dan sebentuk biji kopi itu!

“Kopi tak sekadar hitam, pahit, air panas dan cangkir,” kata Rena lagi. “Melainkan kopi adalah kebahagiaan, konsep, nilai-nilai, persepsi, imajinasi. Bahkan tak sekadar itu. Aku menyakini kopi sebagai jalan kebahagiaan, lantaran kopi membuat penikmatnya ketagihan akan kebahagiaan. Aku tak cuma omong kosong tetek mbengek filsafat, karena Jalan Kopiku adalah bukti[6]. Kopi adalah Jalan Bahagiaku dan Semua Kopi Enak.”

Sepanjang waktu dan kesempatan, dan dalam berbagai pertemuan, aku menuliskan pengakuan Rena, sang filosof itu. Meski berbahasa tingkat tinggi, aku yang telah membiasakan diri peduli pada kopi, pada sejumlah referensi dan itu semua atas nama ikhtiar menarik hatinya, berangsur-angsur tak mengalami kesulitan memahami Jalan Kopi Rena.

Bagiku segala itu mula-mula sebagai suatu pengorbanan, lalu kebutuhan dan berikutnya keharusan sebagai seorang pecinta, meski sekali lagi sampai detik ini aku belum menyerah untuk menenggak seduhan kopi barang setetespun.

Bagi Rena, nikmat kopi ada pada makna kesendirian, perjumpaan, serta perjamuan, juga upacara serta hasil dari dialog ketiganya.

Dengan kata lain, meski minum secangkir kopi adalah peristiwa sesaat, akan tetapi kenikmatan di dalamnya bukanlah kenikmatan dalam arti sesaat, apalagi sesat. Sebaliknya, kenikmatan dalam minum secangkir kopi sebagai suatu peristiwa yang terus melakukan pencarian bagi nilai-nilai tertinggi dalam diri penikmatnya.

Singkatnya, kenikmatan yang dimaksud tak lain adalah kenikmatan estetis.

Mula-mula secangkir kopi—yang sedemikian rupa dengan berbagai komposisi, teknik, seni, nilai-nilai—mengajari banyak hal, sejak kesendirian dan perjumpaan itu. Juga refleksi, penemuan diri kembali, lalu berbagi. Meski tentu saja, hal ini bukanlah nikmat satu-satunya dan paling primordial, mendasar, murni.

Betapa gamblangnya, sebelum tersaji secangkir kopi, tebaran aromanya adalah nikmat tersendiri yang boleh jadi seperti pembuka suatu peristiwa. Ya, nikmat kopi tak lain bermula dari sebuah makna peristiwa ngopi—sebelum pertemuan perjumpaan serta perjamuan, sebelum komposisi tersaji, bahkan sebelum kehadiran kita sebagai penikmat, sosok pribadi yang mulanya hendak menemukan diri, melalui dan di hadapan secangkir kopi. Meski boleh jadi kemudian bersama rekan, sejawat, handai tolan, kawan, keluarga dalam satu meja dengan secangkir kopi yang menguapkan aroma pada indra penciuman masing-masing, dan tentu saja aroma itu menyelinap pada indra penciuman penikmat lainnya.

Nikmat secangkir kopi tak lain ketika menggoda refleksi penikmatnya untuk seperti dirinya—secangkir kopi; sendiri, menguji ketenangan diri, menyakini keteguhan jiwa—pendeknya segala eksistensi diri. Genahnya; refleksi akan inspirasi, imaji, persepsi, intuisi, dan pemaknaan diri.

Nikmat segala peristiwa itu membayang pada secangkir kopinya—kawan berbaginya, sebentuk makluk sejarah kenikmatan yang begitu teguh. Maka kepadanya, nikmat peminum kopi adalah dia yang menyakini pribadinya, yang dalam kebahagiaannya merayakan perjumpaan dengan secangkir kopi sebagai upacara penumuan karakter diri yang asli—dinamis, hangat, jujur dalam berpasrah diri pada kawan berbagi, sebagaimana kepasrahan secangkir kopi dalam ritmis teguk demi teguk.

Maka secangkir kopi memperlihatkan kesejatian. Kopi tak mengenal kepalsuan kepada penikmatnya. Kepalsuan menyingkir dalam suatu peristiwa kesendirian, pertemuan yang tengah berikhtiar menemukan kenikmatan dalam kesejatiannya. Semua kopi baik, enak, ikhlas dalam keindahan segala peristiwa sejak diracik, diseduh, disajikan. Bahkan sejak dipetik dari kesegaran kebugaran bijinya dari pepohonan, lalu diproses mesin pabrik, dikemas, kemudian dalam perjumpaannya dengan air mineral, ditakar keseimbangannya, diatur suhunya, juga tatkala diurus formulanya.

Seperti pribadi penikmatnya, nikmat kopi demikian personal maknawinya, sebegitu privatnya seakan menampik untuk dikisahkan, enggan untuk dipastikan, diumumkan apalagi dilembagakan sederet kalimat panjang. Maka, cita rasa dan nikmat kopi yang sesungguhnya adalah narasi, cerita kekayaan maknawi penikmatnya. Ikhwal kebahagiaannya, kesuksesan jalan hidupnya, kreativitasnya, imajinasinya, kebugaran eksistensinya yang segala itu bukanlah narasi pada secangkir kopi yang selalu dirindunya. Melainkan terpancar melalui spirit perjumpaan, dialog, kepercayaan dirinya, kerja keras, keteguhan memilih jalan hidup sesama para pemburu kenikmatan di cangkir-cangkir kopi di berbagai tempat

Pendek kata, begitulah kenikmatan yang tanpa wicara, tanpa dusta, akan tetapi bisa dibuktikan adanya. Nikmat kopi yang menjumpai, serta pecandu nikmat yang menemukan dan menemui, sebagai yang sama-sama bersikukuh mempertahankan kenikmatan sebagai takdir eksistensi hidup.

Terang, di berbagai tempat sejak di meja keluarga, ruang kantor, waraung, kedai-kedai kopi, café-café para pecandu nikmat inilah mereka yang selalu segar berargumentasi, menarasikan visi, membahasakan gagasan dan sudah barang tentu mengeksekusi kebijakan yang bajik.

Terang pula, sebagai puncak kenikmatan, secangkir kopi adalah sahabat sejati yang begitu sabar dan bersitahan terhadap kesendirian, dan usaha penemuan eksitensi diri penikmatnya.

Aku menyebut segala ini adalah kredo kenikmatan Rena. Bahwa nikmat secangkir kopi baginya lebih dari apa yang ada pada dirinya. Nikmat secangkir kopi adalah penyingkap misteri kenikmatan pecandunya akan kebahagiaan keseharian kehidupannya—eksistensinya.

***

Semenjak kusampaikan padanya, perihal kredo kenikmatan baginya, sembilan puluh sembilan persen kupastikan Rena telah bisa kutaklukkan. Kuyakin kepercayaan penuhnya telah ditambatkan padaku. Satu persen berikutnya sepenuhnya dalam kuasaku; yakni kesediaanku untuk minum secangkir kopi di hadapannya.

Hanya saja, satu hal pada diri Rena yang belum kuungkap baik dari pengakuan dirinya sendiri secara sadar atau tidak, atau dari lelaki-lelaki pemujanya yang tampaknya rahasia itu memang benar-benar ditutup oleh Rena; yaitu mengapa ia lari dari orangtuanya.

Yang terungkap hanyalah, seperti diakuinya sendiri, berbagai jalan itulah—kenangan dan sejarah—yang meneguhkan Rena merayakan kebahagiaan dengan membuka kedai kopi kecil dan keinginannya membuka usaha lebih profesional membuka Postmoderna Coffee. Bahkan bila perlu kelak kemudian hari membuka sejumlah cabang di berbagai kota, atas nama bisnis, kenikmatan, kenyamanan konsumen, kepuasan pelanggan.

Sudah barang tentu, sebagai lelaki yang hampir bisa dipastikan sebagai juitanya, pasangan hidupnya, calon ayah dari anak-anak yang lahir dari rahimnya, aku mengukuhkan pelbagai gagasan yang kutangguk dari pengetahuan di ‘jalan kopi’ selama ini. Perihal glamour, modernitas ruang juga peralatan, teknologi, ruang berbagi dalam kebersamaan serta yang tak kalah pentingnya penghargaan atas cita rasa penikmat kopi seluruh jagad dari yang paling pelosok hingga garda terdepan pemuja nikmat dan imaji sejarah kopi ini.

“Tentu saja, Andalah—pemburu surga kopi—orang yang kami agungkan tersebut.”

Kami? Ya!

Kami dengan tangan, pengetahuan, pengalaman, perjalanan di jalan kopi ini, dan sudah barangtentu berkat takdir baik dari Tuhan maupun yang kami ikhtiarkan sendiri, akan menyediakan pelbagai nikmat kopi, seluar biasa mungkin karena memang tak ada yang biasa dalam nikmat cinta kami sini. Semuanya serba luar biasa sekalipun pada mulanya sesuatu yang biasa. Kami menyuguhkan kopi yang luar biasa dari benih muasal tanah yang luar biasa pula—negeri kita.

Sampai kemudian akhirnya satu-satunya misteri itu terpecahkan, pada saat yang tepat oleh orang yang tepat. Wali, orang kaya itu, yang ternyata adalah ayah Rena menyatakan kebungahannya bersua denganku sebagai lelaki yang sukses memikat hati Rena. Wali mengaku cukup tahu segala lika liku jalan hidupku, baik dari pengakuanku sendiri maupun hasil dari telisik dari para telik berbagai pihak.

“Rena anak saya satu-satunya,” tuturnya. “Saya sudah bebaskan pilihannya, termasuk pilihannya sekolah filsafat, sampai kemudian buka usaha kedai kopi. Walaupun sebetulnya saya ingin Rena belajar sastra, untuk menguji bahwa seorang sastrawan, atau ahli sastra dialah dengan segala kesuksesannya manusia yang sanggup mengangkat derajat setinggi-tingginya kemanusiaannya.”

Pengakuan ayah Rena ini, semula membuatku berpikir orang ini benar-benar keblinger. Namun penjelasan berikutnya, bukan mustahil membuat konglomerat itu berpikir akulah lelaki yang sebenar-benarnya sedang keblinger.

“Semua jalan telah kutunjukkan. Kubebaskan. Satu hal yang sampai sekarang tak bisa meloloskan permintaanku, dan karena itu dia terus memilih jalan pelarian dirinya; Rena menolak mencabut sumpahnya untuk hidup sendiri, tak memilih pasangan, tak sudi menikah-bersuami, tak bakal memelihara bayi,” katanya yang berangsur terbata.

Wali, konglomerat yang gagah itu berakhir menangis, yang tentu saja tak kutahu pasti alasannya mengapa ia menangis. Sebagaimana kukira ia pun tak tahu pasti mengapa kemudian setelah tertegun beberapa jenak, aku memilih berdiri dan memesan kopi pahit tanpa gula, tanpa diaduk, sambil memeriksa kembali masih adakah biji kopi di kantung celanaku.

Saat itulah, untuk kali pertamanya aku meminum secangkir kopi.[]

 

Ngimbang, 27 April 2021

Catatan:

[1] Kelereng, gundu

[2] Tak sulit bagi pikiran tokoh Rena menangkap musabab, bagaimana Kopi Kintamani Bali dikenal baik di Jepang. Kopi bercita rasa yang pahit sekaligus jeruk hasil petani kopi Kintamani mendunia di sana. Lalu, di Jepang pula, nyatanya Kopi Toraja asal Sulawesi Selatan dianggap sebagai minuman premium, bahkan sudah dipatenkan oleh Key Coffee sebuah perusahaan di Jepang.

 [3]  Menyeduh

[4] Espresso (kopi murni yang hitam-pekat), Americano (kopi murni yang lebih encer),  Cappucino (espresso campur susu dan busa susu, sedikit manis),  Latte (Cappucino manis), Moccachino (campuran espresso dengan susu dan coklat, bisa juga ditambahkan whipped cream dan marshmellow). Red Eye/ Black Eye (campuran dari espresso dengan kopi hitam, lebih pahit dan rasanya nendang membuat yang minum jadi lebih melek dan segar), Affogatto (perpaduan espresso pahit dan es krim manis)

[5] Sudah umum diketahui oleh kalangan pecinta kopi, sejumlah kopi khas Nusantara. Kopi Gayo Aceh—salah satu kopi terbaik dan termahal dunia–rasanya unik, enak, tidak terlalu pahit, baunya pun wangi. Kopi Papua Wamena rasanya unik dengan aroma cokelat dan floral, rasa asamnya sedang dan body medium. Kopi Toraja memiliki sentuhan rasa kayu manis atau kapulaga. Kopi Kintamani Bali  rasa pahitnya bercita rasa jeruk. Kopi Flores Bajawa kental dan asam dengan kekhasan rasa kacang-kacangan dan karamel. Kopi Java Ijen Raung yang khas sensasi rasa pedas dengan sentuhan floral. Kopi Rangsang Meranti Riau, Kopi tradisional (Kothok, Kopi Luwak)

[6] Dari sebuah situs di internet terungkap National Institute of Health telah membuktikannya bahwa kopi membuat orang bahagia. Harvard School of Public Health juga mengeluarkan statemen perihal kopi yang menurunkan tingkat bunuh diri. Lalu  sekelompok peneliti di Universitas Seoul di Korea Selatan menegaskan aroma kopi dapat mengurangi stres.

__________________

S. Jai. Lahir di Kediri, 4 Februari 1972. Pengarang sejumlah novel—diantaranya, Tanah Api (LKiS 2005); Tanha—Kekasih  yang Terlupa (Jogja Media Utama 2011);  Khutbah di Bawah Lembah (Najah 2012, Diva Press);   Kumara (DK Jatim, 2013). GURAH (Pagan Press 2015) dan yang terbaru Ngrong (Pagan Press, 2019). Cerpennya Rembulan Terperangkap Ranting Dahan, terpilih sebagai pemenang utama sayembara cerpen berdasarkan Cerita Panji oleh lembaga yang sama bersama penulis-penulis kenamaan; Gunawan Maryanto, Widodo Basuki dan Ratna Indraswari Ibrahim (2010). Pada tahun 2013 sebuah esainya Romantika, Tradisi Tutur dan Moral Intelektual (perihal film  Romy dan Yuli dari Cikeusik) dinobatkan sebagai salah satu tulisan terpilih Yayasan Denny JA untuk Indonesia Tanpa Diskriminasi.  Pemenang Sayembara Novel Dewan Kesenian Jatim (2012), Penerima Penghargaan Gubernur Jatim (2015), Peraih Penghargaan Sotasoma dari Balai Bahasa Jatim untuk buku kritik terbaik, Postmitos (2019).  Kini tinggal di dusun Tanjungwetan, Kec. Ngimbang, Lamongan. Telp 081-335-682-158

Jalan Kopi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Open chat
Tabik, sudah menghubungi kami. Silakan chat lebih lanjut